• Follow Us On :

Bukan hanya luka fisik yang membutuhkan penanganan cepat, tetapi juga luka batin yang tak terlihat. Kesadaran ini mendorong Puskesmas Prambanan untuk menggelar kegiatan Pertolongan Pertama pada Luka Psikologi (P3LP) yang berlangsung di Laboratorium IPA SMP Muhammadiyah 1 Prambanan. Kegiatan yang digagas pada Kamis, 12 Februari pagi ini, merupakan program Puskesmas untuk sekolah-sekolah di wilayah Prambanan.

Berbeda dari biasanya, ruang laboratorium yang identik dengan mikroskop dan tabung reaksi itu, pagi ini disulap menjadi ruang konsultasi dan terapi ringan. Alih-alih membedah katak atau mencampur zat kimia, para siswa justru diajak untuk membedah perasaan dan mencampur empati.

Kepala SMP Muhammadiyah 1 Prambanan, Ibu Daswati Rofiatun Sahifah S.T., M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan, bahwa program ini seperti gayung bersambut. Alasannya, karena beliau juga prihatin terhadap maraknya kasus kesehatan mental di kalangan remaja.

“Kami melihat tekanan akademik dan sosial di era digital sangat berat. Jangan sampai siswa kami pintar secara kognitif, tetapi rapuh secara mental. Melalui P3LP ini, kami ingin membekali mereka agar bisa menjadi penolong pertama bagi diri sendiri dan temannya,” ujar beliau.

Kegiatan ini menghadirkan penyuluh kesehatan dan psikolog dari Puskesmas Prambanan. Ibu Asiska Danim, selaku narasumber utama menjelaskan, bahwa luka psikologi seperti kecemasan, serangan panik, atau depresi ringan sering kali diabaikan karena gejalanya tidak kasat mata.

“Jika mimisan kita tahu harus menengadahkan kepala, tetapi jika hati sedang berdarah karena kecewa atau bully, anak-anak sering bingung harus berbuat apa. Di sinilah P3LP hadir. Kami ajarkan teknik-teknik dasar seperti kita hadir, kita mendengarkan dengan seksama tanpa membumbui, tidak menjustifikasi, dan meski belum tentu selalu bisa memberi solusi, tetapi kehadiran kita adalah bentuk empati nyata.” jelas Ibu Asiska.

Antusiasme siswa cukup baik. Bahkan, rata-rata merasa bersyukur mendapatkan ilmu baru tentang P3LP.

“Saya kira cuma luka jatuh dari motor yang perlu P3K, ternyata teman yang tiba-tiba diam dan murung juga perlu segera ditolong. Dari sini saya jadi paham, kalau bilang santai aja itu tidak cukup, harus ada langkah konkret,” ujar Aini Syifa Yuliani, siswa kelas 8 yang menjadi peserta.

Kegiatan pada intinya untuk membekali cara mengidentifikasi perubahan perilaku siswa yang mengarah pada gangguan mental, serta bagaimana merujuk kasus ke tenaga profesional. Pihak Puskesmas turut berterimakasih atas sambutan baik dari kolaborasi ini. Ketika wawancara singkat, perwakilan puskesmas menyatakan bahwa sekolah adalah garda terdepan dalam deteksi dini masalah kejiwaan remaja.

“Kami sangat berterimakasih, SMP Muhammadiyah 1 Prambanan mau bekerjasama dengan kami perihal P3LP. Itu artinya, SMP Muhammadiyah 1 Prambanan adalah salah satu sekolah yang secara sadar memasukkan isu kesehatan mental dalam program sekolah. Ini langkah maju yang patut dicontoh,” ungkap tim penyuluh kesehatan puskesmas.

Dengan berakhirnya sesi P3LP ini, SMP Muhammadiyah 1 Prambanan dan Puskesmas Prambanan saling berkomitmen untuk menjaga kesehatan mental para generasi bangsa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *